Kamis, 12 Mei 2016

Tuhan Menjadi Sekutu Umat-Nya, Manusia Menjadi Sekutu Allah

Telah dikemukakan sebelumnya, bahwa Alkitab tidak mengajarkan adanya suatu tabiat ilahi (divine nature), yang berdiri sendiri, yang bersifat akali atau rohani dalam arti tidak berwujud karena halusnya. Hakekat Tuhan Allah, menurut Alkitab, adalah menjadi sekutu umat-Nya, seperti hakekat manusia adalah menjadi sekutu Allah. Hakekat Tuhan Allah yang demikian itu diungkapkan atau dinyatakan di dalam firman dan karya-Nya.
Hakekat Tuhan Allah yang satu itu, yaitu menjadi sekutu umat-Nya, dinyatakan atau diperkenalkan dengan bermacam-macam cara, umpamanya: sebagai Yang Mahatinggi, Yang Kudus, Yang Esa, dan sebagainya. Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah juga wujud penyataan Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya tadi, yang dinyatakan di dalam firman dan karya-Nya. Oleh karena itu maka kiranya keliru, jika kita mengira bahwa ungkapan Bapa, Anak, dan Roh Kudus itu seolah-olah sebagai ungkapan yang dengan tiba-tiba dipergunakan di dalam Perjanjian Baru. Hal ini sama halnya dengan ungkapan-ungkapan yang lain, yang mengungkapkan hakekat Tuhan Allah tadi (kudus, kekal, dan lain sebagainya). Baik Yesus maupun para rasul, jika mempergunakan ungkapan-ungkapan itu tentu mendasarkan kepada apa yang telah dinyatakan oleh Tuhan Allah di dalam Perjanjian Lama. Oleh karena itu kita harus mulai dari meneliti arti ungkapan-ungkapan itu di dalam Perjanjian Lama, sesudah itu artinya di dalam Perjanjian Baru, untuk kemudian mengambil kesimpulan yang sesuai dengan yang dimaksud oleh Alkitab.
Bahwa Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri sebagai Bapa telah didapatkan di dalam Perjanjian Lama.
Dalam Ulangan 32:6 Musa berkata kepada umat Israel di dalam nyanyiannya, “Demikianlah engkau mengadakan pembalasan terhadap TUHAN, hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang mencipta engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau?” Di dalam bagian Alkitab ini Musa mengingatkan kepada Israel, bahwa Tuhan Allah adalah Bapanya, sebab TUHAN itulah yang telah mencipta Israel dan yang telah menegakkan mereka. Bangsa Israel menjadi suatu bangsa yang bebas dan besar, tidak lain karena karya Tuhan Allah terhadap bangsa itu. Tuhanlah yang telah melepaskan Israel dari perhambaan di Mesir. Ialah yang mencipta Israel, dari yang bukan bangsa menjadi bangsa. Ialah yang telah menegakkan Israel baik terhadap Mesir maupun terhadap segala bahaya maut yang mengancam Israel di padang gurun. Oleh karena itu ungkapan Bapa ini di Yesaya 63:16 dihubungkan dengan ungkapan Penebus, sebab di situ disebutkan, bahwa nama Tuhan Allah sejak dahulu kala adalah Bapa dan Penebus Israel. Kehormatan Israel sebagai bangsa yang bebas merdeka adalah karya Tuhan Allah. Di Maleakhi 2:10 disebutkan juga bahwa Tuhan Allah adalah Bapa Israel, sebab Tuhan Allah itulah yang telah menciptakan Israel.
Dari apa yang telah diuraikan di atas, jelaslah kiranya bahwa jika Tuhan Allah disebut Bapa, hal itu bukan menunjuk kepada suatu keadaan yang statis, yang mandeg, melainkan hal itu dihubungkan dengan karya Allah yang telah ditujukan kepada Israel. Bahwa Tuhan Allah adalah Bapa Israel telah dibuktikan di dalam karya-Nya, umpamanya, pada waktu perjalanan Israel dari Mesir, dimana disebutkan, bahwa Tuhan Allah telah mendukung Israel seperti seseorang mendukung anaknya di sepanjang jalan yang ditempuh Israel hingga sampai di tempat di mana mereka itu sekarang berada, dan Tuhan Allah telah mengajari Israel seperti seseorang mengajari anaknya.
Segala perbuatan Allah yang telah dilakukan terhadap Israel itu disebabkan, karena seperti yang telah berulang kali disebutkan, Tuhan Allah berkenan menjadi sekutu umat-Nya. Bukan hanya pada waktu Israel berada di padang gurun, tetapi juga setelah Israel berdiam di tanah Kanaan, Tuhan Allah tetap dengan kasih dan belas kasihan menjadi penyelamat dan pembebas Israel, sekalipun Israel sebagai sekutu Tuhan Allah sering menginjak-injak kasih Bapanya.
Hubungan Bapa-Anak
Jika Tuhan Allah dipandang sebagai Bapa Israel, maka sebaliknya, Israel dipandang sebagai ANAK ALLAH.
Pada waktu Musa diutus menghadap Firaun di Mesir, ia diperintahkan oleh Tuhan Allah untuk mengatakan kepada Firaun, bahwa Israel adalah anak Allah, bahkan anak Allah yang sulung. Oleh karena itu Firaun harus memperkenankan Israel pergi beribadah kepada Tuhan Allah.
Ungkapan anak Allah ini di Perjanjian Lama bukan hanya dikenakan kepada Israel sebagai bangsa seluruhnya atau sebagai kesatuan, akan tetapi juga dikenakan kepada para raja, yang menjadi wakil Israel di hadapan Tuhan Allah. Kepada raja Daud umpamanya, Tuhan Allah berfirman, bahwa Ia akan menjadi Bapa Salomo, anak Daud, dan Salomo akan menjadi anak Allah. Itulah sebabnya maka Mazmur 2:7-8 menyebutkan, bahwa raja yang ditahbiskan di Sion adalah anak Allah.
Kecuali raja, para malaekat juga disebut anak-anak Allah.
Jadi ungkapan anak Allah di dalam Perjanjian Lama dipergunakan dalam tiga cara, yaitu: bagi keseluruhan umat Israel, bagi para raja sebagai wakil Israel dan bagi para malaekat. Singkatnya, ungkapan itu dipergunakan untuk mereka yang mendapat tugas pelayanan yang khas bagi Tuhan Allah. Umat Israel seluruhnya disebut anak Allah karena umat itu sebagai sekutu Allah mendapat tugas untuk melayani Tuhannya. Tuhan Allah telah memilih Israel sebagai sekutu-Nya, dengan maksud supaya Israel mentaati segala perintah Allah secara mutlak, seperti para anak mentaati bapanya. Kedudukannya sebagai sekutu Allah sama dengan keududukan sebagai anak Allah. Para raja disebut anak Allah, sebab para raja di tengah-tengah Israel menjadi wakil umat Allah di hadapan Tuhan Allah. Di dalam diri raja itu terangkumlah sekalian umat Israel, sebagai sekutu Tuhan Allah. Raja menjadi anak Allah, sebab seluruh Israel yang diwakilinya menjadi anak Allah.
Demikianlah ungkapan Bapa dan Anak di dalam Perjanjian Lama, jika dikenakan kepada Tuhan Allah dan umat-Nya, menunjukkan hubungan yang akrab sekali di antara Tuhan Allah dengan umat-Nya, berdasarkan peristiwa, bahwa Tuhan Allah telah memilih Israel menjadi sekutu-Nya, dan Tuhan Allah menjadi sekutu Israel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar